WAKIL Gubernur Aceh Muzakir Manaf hari ini membuka acara Aceh Development International Conference 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia. Ini adalah yang keempat kalinya konferensi itu digelar.
Acara ini dilaksanakan oleh Academic of Islamic Studies, Universiti Malaya, International Association of Acehnese Scholars (IAAS) dan Acehnese Student Association (ASA), organisasi mahasiswa Universiti Malaya.
Selain itu acara ini juga kerjasama dengan organisasi mahasiswa Aceh di Universitas-universitas di Malaysia, antara lain: Badan Kebajikan Pendidikan Mahasiswa Aceh Universiti Kebangsaan Malaysia (Bakadma UKM), Tanah Rencong Student Acehnese (Tarsa), UIA dan Persatuan Pelajar Aceh (PPA) UPM. Acara ini juga disokong oleh The Aceh Club Kuala Lumpur, organisasi Aceh yang dipimpin oleh Tan Sri Dato' Seri Sanusi Junid.
Berikut adalah pidato lengkap Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat membuka konferensi itu.
Acara ini dilaksanakan oleh Academic of Islamic Studies, Universiti Malaya, International Association of Acehnese Scholars (IAAS) dan Acehnese Student Association (ASA), organisasi mahasiswa Universiti Malaya.
Selain itu acara ini juga kerjasama dengan organisasi mahasiswa Aceh di Universitas-universitas di Malaysia, antara lain: Badan Kebajikan Pendidikan Mahasiswa Aceh Universiti Kebangsaan Malaysia (Bakadma UKM), Tanah Rencong Student Acehnese (Tarsa), UIA dan Persatuan Pelajar Aceh (PPA) UPM. Acara ini juga disokong oleh The Aceh Club Kuala Lumpur, organisasi Aceh yang dipimpin oleh Tan Sri Dato' Seri Sanusi Junid.
Berikut adalah pidato lengkap Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat membuka konferensi itu.
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga pada hari ini kita bisa berkumpul, bersilaturrahmi dan berdiskusi demi kemajuan dan kegemilangan masa depan Aceh.
Salawat dan salam kita sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat beliau sekalian.
Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih kepada panitia yang telah memberi kehormatan kepada kami—mewakili Pemerintah dan rakyat Aceh—untuk berbicara pada pertemuan Aceh Development International Conference (ADIC) 2013. Ini adalah pertama kalinya kami berbicara di forum ADIC semenjak dilantik pada 25 Juni 2012 yang lalu sebagai Wakil Gubernur Aceh. Jika dihitung sampai hari ini, berarti kami sudah mengemban amanah rakyat sebagai Wakil Kepala Pemerintahan Aceh selama sembilan bulan 1 hari.
Selama masa itu memang mulai terjadi perubahan yang berarti di Aceh. Karya kita terkini adalah pada Jumat 22 Maret 2013 lalu, bersama DPR Aceh telah disahkannya Qanun Aceh tentang Bendera dan Lambang Aceh, Qanun Aceh tentang Penanaman Modal, dan Qanun Aceh tentang Tatacara Penggunaan Tambahan Dana Bagi Hasil Migas dan Dana Otonomi Khusus. Insya Allah, dengan berbagai program yang sudah kami siapkan, pembangunan di Aceh akan kita pacu sehingga bisa menjadi salah satu pembangunan ekonomi di Indonesia. Untuk itu kami minta dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk masyarakat dan mahasiswa Aceh di Malaysia.
Dalam mempersiapkan pembangunan di Aceh dalam empat tahun ke depan, kami juga sudah menyiapkan rencana strategis yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh atau RPJMA 2012-2017, di mana ada 10 program pembangunan yang kita prioritaskan, yaitu:
1. Reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan;
2. Keberlanjutan perdamaian;
3. Dinul Islam, sosial, adat dan budaya;
4. Ketahanan pangan dan nilai tambah pertanian;
5. Penanggulangan kemiskinan;
6. Pendidikan;
7. Kesehatan;
8. Infrastruktur yang terintegrasi;
9. Sumber daya alam berkelanjutan dan;
10. Masalah lingkungan hidup dan kebencanaan.
Di samping program yang disiapkan Pemerintah Aceh, dalam agenda pembangunan Indonesia, Aceh juga sudah dimasukkan dalam proyek Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, di mana Aceh diharapkan menjadi koridor pengembangan ekonomi di wilayah Sumatera. Dengan menjadi koridor pembangunan di wilayah Sumatera, maka jaringan ekonomi di Aceh lebih terbuka, termasuk akses langsung Aceh ke dunia internasional. Sebagai konsekuensi dari program tersebut, Pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran Rp 1,25 triliun untuk perluasan dan pengembangan pelabuhan Krueng Geukueh di Aceh Utara. Pelabuhan ini nantinya akan menjadi salah satu gerbang ekspor produk Aceh ke dunia internasional.
Sejalan dengan kehadiran program ini, perhatian terhadap sektor pertanian dan perdagangan akan kita tingkatkan. Pembangunan infrastuktur di lintas tengah akan diperbanyak.
Selain pelabuhan Krueng Geukueh, fungsi tiga pelabuhan laut lainnya juga akan diperluas, yaitu Pelabuhan Malahayati di kawasan Aceh Besar, Pelabuhan Kuala Langsa, dan tentu saja Pelabuhan Bebas Sabang yang sampai sekarang pembangunannya masih terus berlangsung. Untuk mendukung semua itu, Pemerintah Aceh telah mengalokasikan anggaran pembangunan untuk tahun 2013 sebesar Rp 11,7 triliun.
Ini merupakan anggaran pembangunan tahunan yang terbesar dalam sejarah Aceh. Mudah-mudahan dengan ketersediaan anggaran dan dengan program yang dipersiapkan, percepatan pembangunan di Aceh akan berjalan dengan lancar.
Perlu kami sampaikan pula, situasi keamanan di Aceh belakangan ini sangat menggembirakan. Situasi ini sangat mendukung berkembangnya iklim usaha di berbagai sektor. Perlahan tapi pasti, arus investasi juga sudah mulai masuk ke Aceh. Sepanjang tahun 2012, investasi yang masuk berkisar Rp 18,11 triliun. Capaian tersebut meningkat 4,04 persen dibandingkan tahun 2011 yang hanya mencapai Rp 16,06 triliun.
Sektor industri kecil mengalami perkembangan cukup pesat. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, sektor industri kecil di Aceh sampai tahun 2012 berjumlah 10.434 unit, atau naik 38,42 persen dibanding tahun 2011, dengan jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 44.678 orang, tumbuh sebesar 69,65 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun semua pencapaian itu belumlah memuaskan, sebab faktanya, hingga saat ini tingkat kemiskinan dan angka pengangguran di Aceh relatif masih tinggi. Data terakhir menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh masih berkisar 19,5 persen, atau berada di atas tingkat kemiskinan Nasional yang berkisar 12,3 persen. Sedangkan angka pengangguran di Aceh berada pada level atau 7,43 persen atau berkisar 148.786 orang. Angka ini juga masih di atas tingkat pengangguran nasional yang berkisar 6,14 persen.
Dengan perbandingan data ini, dapat dipahami kalau pencapaian dalam pembangunan di Aceh masih jauh dari harapan. Itu sebabnya proses pembangunan harus terus dipacu, sehingga dalam empat tahun ke depan diperoleh hasil yang lebih positif.
Dalam upaya percepatan pembangunan itu, kita akan terus meningkatkan iklim investasi di Aceh sehingga investor akan semakin banyak membuka usaha di Aceh. Sampai tahun 2017, Pemerintah Aceh sudah menetapkan target investasi berkisar Rp. 48,8 triliun. Investasi itu kita harapkan berkembang di empat sektor ekonomi penting, yaitu:
1. Sektor Perkebunan. Peluang di sektor ini sangat besar mengingat lahan perkebunan masih terbuka luas di Aceh. Kita berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya untuk komoditi karet, kakao, kopi, dan juga optimalisasi kelapa sawit.
2. Sektor industri primer, seperti industri pengolahan sumber daya alam dan sebagainya.
3. Sektor energi, khususnya untuk energi yang bisa diperbarui, seperti energi hydropower, geothermal dan lain sebagainya.
4. Sektor manufaktur, dan jasa.
5. Sektor pengembangan sumber daya manusia.
Untuk mendukung kenyamanan investasi itu, kita sudah menyiapkan berbagai infrastruktur yang memadai. Sebagai gambaran, dalam beberapa pekan ke depan, Aceh akan mendapat pasokan energi listrik sebesar 2 x 110 Mega Watt yang dihasilkan dari PLTU Nagan Raya. Dua sumber energi listrik lainnya, yaitu Geothermal di Seulawah serta PLTA Peusangan juga sedang dalam pengerjaan. Jika keduanya selesai, maka Aceh akan memiliki sumber energi listrik yang cukup besar.
Tentu kami tidak punya waktu yang cukup untuk mengelaborasi secara detail tentang strategi pembangunan Aceh ke depan. Secara singkat kami jelaskan di sini, bahwa dalam Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Aceh hingga 2025, pembangunan Aceh akan menyentuh semua aspek, termasuk infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, pendidikan, dan sebagainya. Aceh ke depan akan maju dan gilang gemilang.
Sedangkan untuk jangka pendek hingga akhir 2013, Pemerintah Aceh menetapkan beberapa target, antara lain, pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen, angka kemiskinan turun menjadi 18 persen, dan tingkat pengangguran menjadi 7 persen. Untuk itu kami mengharapkan kerjasama dengan semua pihak demi pencapaian target tersebut. Rekomendasi dari forum ADIC ini juga sangat kami nantikan, sehingga penyusunan program pembangunan Aceh lebih fokus dan terarah.
Demikian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bisa menjadi bahan rujukan kepada peserta forum untuk mendiskusikannya lebih panjut. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua dan meridhai segala upaya kita untuk menyejahterakan rakyat Aceh.
Akhirnya, Dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” Aceh Development International Conference (ADIC) ke-4 tahun 2013, dengan ini resmi kami nyatakan dibuka.
Wakil Gubernur Aceh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar