| GERAKAN MAHASISWA PASE ( GEMPA ) |
Hampir di
setiap perguruan tinggi pasti ada organisasi kemahasiswan,sebagai wahana untuk
meengatualisasikan kreatifitas dan potensi mahasiswa. Berdasarkan Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 155/U/1998 tentang
Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, pada Pasal 3 (1)
dijelaskan bahwa di setiap perguruan tinggi terdapat satu organisasi
kemahasiswaan intra perguruan tinggi yang menaungi semua aktivitas
kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswa intra ini dibentuk pada tingkat perguruan
tinggi, fakultas, dan jurusan. Pada Pasal 5 dijelaskan bahwa organisasi
kemahasiswaan intra perguruan tinggi mempunyai fungsi sebagai sarana dan wadah:
- perwakilan mahasiswa tingkat perguruan tinggi untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa, menetapkan garis-garis besar program dan kegiatan kemahasiswaan;
- pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan;
- komunikasi antar mahasiswa;
- pengembangan potensi jati diri mahasiswa sebagai insan akademis, calon ilmuwan dan intelektual yan berguna di masa depan;
- pengembangan pelatihan keterampilan organisasi, manajemen dan kepemimpinan mahasiswa;
- pembinaan dan pengembangan kader-kader bangsa yang dalam melanjutkan kesinambungan pembangunan nasional;
- untuk memelihara dan mengembangkan ilmu dan teknologi yang dilandasi oleh norma-norma agama, akademis, etika, moral dan wawasan kebangsaan.
Diantara fungsi organisasi tersebut, fungsi pengembangan keterampilan
organisasi dan kepemimpinan mahasiswa merupakan hal yang penting. Hal ini
disebabkan mahasiswa, selain calon ilmuwan, juga calon pemimpin bangsa di masa
depan. Mahasiswa adalah sebagian kecil dari generasi muda yang nanti diharapkan
sebagai pemimpin. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan secara matang melalui
organisasi kemahasiswaan. Persoalan yang dianggap urgen dari kehidupan
mahasiswa adalah ketika mereka harus menghadapi globalisasi yang ditandai
dengan tuntutan demokratisasi dan persaingan. Demokrasi menjadi salah satu
tuntutan masyarakat dunia, sebab demokrasi dianggap sebagai suatu sistem
pemerintahan rasional terbaik. Tuntutan terhadap demokratisasi di Indonesia
juga semakin menguat semenjak reformasi. Tuntutan kebebasan berpendapat,
penegakan hukum, perlindungan terhadap HAM, keterbukaan, merupakan indikator
dari demokrasi. Oleh karena pemimpin, dituntut untuk lebih memahami, dan
sekaligus menjalankan prinsip dan nilai-nilai demokrasi. Meskipun gerakan
reformasi tahun 1998 dipelopori oleh mahasiswa, belum semua mahasiswa paham
tentang demokrasi. Berbagai konflik antar mereka pada saat pemilihan pimpinan
organisasi, demontrasi yang berujung pada tindakan yang anarkis mengindikasikan
bahwa belum semua mahasiswa paham tentang demokrasi. Berdasarkan pada kondisi
tersebut, salah satu program pendidikan karakter yang dikembangkan di Unesa
adalah membangun karakter pemimpin melalui organisasi kemahasiswa. Pendidikan
karakter pemimpin tersebut ditujukan kepada para elit-elit mahasiswa yang
menjadi pengurus organisasi kemahasiswa mulai dari tingkat perguruan tinggi
sampai ke tingkat jurusan. Nilai yang ditanamkan adalah etika politik, yang
berkaitan dengan bagaimana mereka memperoleh dan menggunakan kekuasaan, serta
bagaimana mereka mensikapi lawan politik dalam proses pemilihan pimpinan
organisasi. Dalam pendidikan ini yang pertama dilakukan adalah merubah
paradigma ”menang-kalah” menjadi ”yang terbaik”. Paradigma ”menang-kalah”
menganggap bahwa kekuasaan adalah segalanya, dan oleh karena itu harus
diperebutkan dengan segala cara. Paradigma seperti ini bukan hanya mendorong
tindakan ”marchiavelian”, yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh
kekuasaan, tetapi juga menimbulkan konflik yang berkepanjangan diantara sesama
mahasiswa. Konflik antara mahasiswa sebagai akibat dari proses pemilihan
pimpinan mahasiswa, selain dapat menimbulkan tindakan anarkhis yang dapat
menimbulkan kerusakan berbagai sarana, juga menghasilkan budaya yang tidak
sesuai dengan etika akademis, yang selalu menghargai perbedaan pendapat dan
sudut pandang. Paradigma ”menang-kalah” harus diubah menjadi paradigma ”yang
terbaik”, yaitu memilih yang terbaik diantara yang baik. Dengan asumsi bahwa
diantara yang baik tentu ada yang terbaik, maka proses pemilihan pimpinan
organisasi kemahasiswa dilakukan dengan cara uji publik yang melibatkan seluruh
mahasiswa. Dengan paradigma ini, para mahasiswa didorong untuk berlomba-lomba
menjadi yang terbaik, tanpa harus merugikan yang lain (fastabikhulqhoirat).
Dengan paradigma ini nilai—nilai yang akan dibangun adalah (1) Acievement;
mendorong setiap orang untuk menjadi yang terbaik, (2) menghargai prestasi
orang lain; (3) ikhlas, dengan memberi kesempatan kepada mereka yang lebih bak,
(4) menjaga persatuan dan keutuhan organiisasi kemahasiswaan, (5) lebih
mengutamakan kepentingan organisasi (negara) daripada kepentingan pribadi atau
kelompok. Perubahan paradigma ini dilakukan dengan pendekatan rasionalisasi
melalui diskusi-diskusi di kalangan pimpinan organisasi kemahasiswaan (BEM dan
DLM) baik ditingkat perguruan tinggi sampai ke tingkat jurusan. Selain itu,
upaya untuk membangun karakter pemimpin di kalangan mahasiswa juga dilakukan
melalui Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) mulai dari tingkat
jurusan atau prodi, sampai ke tingkat perguruan tinggi. Mulai dari LKMM
pradasar di tingkat prodi, LKKM dasar di tingkat fakultas, dan LKMM tingkat
menengah dan lanjut di tingkat Universitas. Dengan program ini diharapkan para
pimpinan organisasi kemahasiswaan menjadi model karakter dari mahasiswa lain.
Mahasiswa yang menjadi pimpinan BEM maupun DLM di tingkat Fakultas minimal
harus pernah mengikuti LKMM tingkat dasar. Begitu juga mahasiswa yang ingin menjadi
pimpinan BEM maupun DLLM di tingkat universitas harus telah mengikuti LKMM
tingkat menengah, atau minimal telah menikuti LKKM tingkat menengah, Dengan
pola ini karakter kepemipinan mahasiswa akan terbangun, sehingga diharapkan
kedepan mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang cerdas, bijak, dan
sederhana. Sebagai implementasi dari nilai-nilai karakter yang telah mereka
peroleh dari matakuliah Pengembangan Kepribadian, pengelaman mereka mengikuti
unit-unit kegiatan kemahasiswaan, dan leatihan keterampilan manajemen, para
pimpnan organisasi kemahasiswaan ini harus bisa menjadi contoh atau model bagi
mahasiswa lainnya. Dengan demikian, selain ada pengendalian diri agar berbuat
yanag baik, mereka juga diawasi oleh mahasiswa lain. Dengan faktor internal dan
eksternal inilah mereka akan menampilkan karakter sebagai mahasiswa yang
cerdas, jujur, bertangggungjawab, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungann
maupun teman sejawatnya. Sebagai bentuk pengarhargaaan dan sekaligus motivasi
kepada para mahasiswa, setiap tahun dipilih mahasiswa model terbaik di tingkat
universitas maupun fakultas. Kepada mereka yang menjadi mahasiswa model terbaik
diberi penghargaan oleh lembaga berupa surat pengharagan dan lainnya. Dengan
penghargaan ini diharapkan semakin banyak mahasiswa yang ingin menjadi model
karakter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar