ACHEH-SUMATRA
NATIONAL LIBERATION FRONT (ASNLF)
TEUNTARA NEUGARA ATJÈH (TNA)
PUSAT INFORMASI MILITÈR
TEUNTARA NEUGARA ATJÈH (TNA)
PUSAT INFORMASI MILITÈR
16 May 2003
INDONESIA MENGHALANGI PERTEMUAN TOKYO
Hari ini tanggal 16 Mei 2003 penguasa Indonesia telah menangkap 5 orang
negosiator GAM yang hendak berunding di Tokyo. Mereka yang ditangkap adalah
Sofyan I. Tiba, Nashiruddin Ahmad, Muhammad Usman, T. Kamaruzzaman, dan Amni A.
Marzuki. Ironisnya, penangkapan justru terjadi pada saat mereka sedang dalam
perjalanan menuju airport untuk berangkat ke Jakarta dan kemudian ke Tokyo.
Kelakuan pemerintah Indonesia tersebut jelas bertentangan dengan norma moral pergaulan internasional dan sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak ingin menyelesaikan konflik Acheh secara damai.
Tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada mereka semuanya direkayasa serta tidak ada yang masuk akal. Polisi telah menggunakan hak menahan orang 1 x 24 jam secara sewenang-wenang.
Fakta yang tidak dapat dibantah lagi bahwa pemerintah Indonesia sedang hancur dari dalam dan posisi Presiden Megawati tidak dihormati oleh militer. Penggiringan terhadap Megawati oleh militer sudah sampai pada tahap yang berbahaya. Ucapan Megawati bahwa “kendati pun di Acheh CoHA akan diefektifkan lagi, namun operasi militer tetap dijalankan” menunjukkan dua hal. Yang pertama, Presiden Megawati tidak menguasai substansi masalah yang sedang ditanganinya; atau yang kedua, ia mengucapkannya karena digiring oleh militer.
Kejadian penangkapan terhadap Negosiator GAM menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya belum pantas berdiri di dalam barisan negara-negara yang beradab. Kenyataan ini harus diterima oleh rakyat Indonesia bahwa mereka masih hidup di dalam sebuah negara yang belum memenuhi definisi negara. Daripada berpikir bagaimana menaklukkan Rakyat Acheh dan bertepuk tangan mendengar komentar petinggi TNI yang haus akan darah Bangsa Acheh, rakyat Indonesia sekarang lebih baik berpikir bagaimana mencari orang-orang yang lebih layak menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang, di Pulau Jawa.
Comando Militer Pusat,
Kelakuan pemerintah Indonesia tersebut jelas bertentangan dengan norma moral pergaulan internasional dan sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak ingin menyelesaikan konflik Acheh secara damai.
Tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada mereka semuanya direkayasa serta tidak ada yang masuk akal. Polisi telah menggunakan hak menahan orang 1 x 24 jam secara sewenang-wenang.
Fakta yang tidak dapat dibantah lagi bahwa pemerintah Indonesia sedang hancur dari dalam dan posisi Presiden Megawati tidak dihormati oleh militer. Penggiringan terhadap Megawati oleh militer sudah sampai pada tahap yang berbahaya. Ucapan Megawati bahwa “kendati pun di Acheh CoHA akan diefektifkan lagi, namun operasi militer tetap dijalankan” menunjukkan dua hal. Yang pertama, Presiden Megawati tidak menguasai substansi masalah yang sedang ditanganinya; atau yang kedua, ia mengucapkannya karena digiring oleh militer.
Kejadian penangkapan terhadap Negosiator GAM menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya belum pantas berdiri di dalam barisan negara-negara yang beradab. Kenyataan ini harus diterima oleh rakyat Indonesia bahwa mereka masih hidup di dalam sebuah negara yang belum memenuhi definisi negara. Daripada berpikir bagaimana menaklukkan Rakyat Acheh dan bertepuk tangan mendengar komentar petinggi TNI yang haus akan darah Bangsa Acheh, rakyat Indonesia sekarang lebih baik berpikir bagaimana mencari orang-orang yang lebih layak menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang, di Pulau Jawa.
Comando Militer Pusat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar