![]() |
| Alm. Panglima GAM Tgk.Abdullah Syafi"i |
Subuh hampir menjelang ketika
serombongan orang berjalan kaki sambil mengusung empat keranda dalam pekat
malam. Di posisi paling depan, seorang lelaki menjinjing petromaks sebagai
penerang jalan. Seratus meter dari sana, sejumlah laki-laki masih
menggali lubang kubur berukuran 3 x 2 meter.
"Tolong ambil timba,
semua air harus dibuang,” ujar seorang lelaki meminta untuk menguras air yang
memancar di dalam lubang yang baru saja digali.
“Tanah yang di ujung sana, digali sedikit lagi,” seorang lelaki lain menimpali.
Pada malam menjelang subuh itu, 25 Januari 2002, isak tangis dan salawat bergema di Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Salah satu keranda yang diusung adalah Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Teungku Abdullah Syafie. Ada juga istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya Teungku Daud Hasyim dan Teungku Muhammad Ishak. Mereka tewas akibat kontak senjata antara GAM dan TNI tiga hari sebelumnya, di Desa Sarah Panyang Jiemjiem, sekitar empat kilometer dari Blang Sukon.
“Tanah yang di ujung sana, digali sedikit lagi,” seorang lelaki lain menimpali.
Pada malam menjelang subuh itu, 25 Januari 2002, isak tangis dan salawat bergema di Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Salah satu keranda yang diusung adalah Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Teungku Abdullah Syafie. Ada juga istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya Teungku Daud Hasyim dan Teungku Muhammad Ishak. Mereka tewas akibat kontak senjata antara GAM dan TNI tiga hari sebelumnya, di Desa Sarah Panyang Jiemjiem, sekitar empat kilometer dari Blang Sukon.
Tanpa dimandikan, keempat
jenazah itu lalu dimakamkan dalam satu liang. Pemakaman berlangsung sederhana.
Tak ada simbol-simbol GAM seperti bendera atau letusan senjata api sebagaimana
lazimnya penguburan seorang panglima militer. Tak ada pula petinggi GAM lain di
sana.
Masyarakat setempat mengenang
Abdullah Syafie sebagai sosok ramah dan bersahaja. Itu sebabnya, tiga warga
desa yang terletak 35 kilometer di selatan Kota Sigli itu sempat pingsan, tak
kuasa menahan haru. “Saya belum pernah menemukan seorang pemimpin yang begitu
dekat dan bisa bergaul dengan segala lapisan masyarakat,” ujar pria separuh
baya yang namanya tidak mau disebutkan.
Pria yang akrab disapa Teungku
Lah itu tak hanya disenangi kawan, tapi juga disegani lawan. Letkol Infanteri
Supartodi yang ketika itu menjabat Komandan Distrik Militer (Dandim) 0102 Pidie
mengakui kelebihan Teungku Lah. “Beliau orang baik. Tapi karena ideologinya
bertentangan, ia harus berhadapan dengan kami,” ujar Supartodi.
Abdullah Puteh yang ketika itu
menjabat Gubernur Aceh juga memuji sosok Tengku Lah. Menurut Puteh, ia adalah
pemimpin yang sudi diajak berdialog dan berpikiran modern. Itu terbukti ketika
Teungku Lah menerima Bondan Gunawan, Sekretaris Negara yang diutus Presiden
Abdurrahman Wahid pada 16 Maret 2000. Pertemuan itu berlangsung pada sebuah
jambo di sawah pinggir hutan dalam suasana akrab dan penuh canda, tanpa
pengawalan ketat. Bahkan, sejumlah televisi dalam dan luar negeri
menyiarkan pertemuan itu secara langsung.
"Saya menganggap Tengku
Lah sebagai saudara, bukan musuh," kata Bondan sesudah pertemuan itu.
Bondan bahkan menaruh foto dirinya dengan sang Panglima AGAM di meja kerjanya.
"Itu potret saudara saya," ujar Bondan kepada Nezar Patria dari TEMPO
yang menemuinya seusai bertemu Teungku Lah.
Meski mengaku pertemuan itu
hanya sebagai silaturahmi biasa, namun sesungguhnya Bondan menyampaikan pesan
Gus Dur untuk meretas jalan damai bagi konflik Aceh. Tertembaknya Teungku Lah
sempat membuat jalan menuju damai kian berliku. Pertemuan yang sudah dirancang
berlangsung pada 3 Februari di Jenewa, Swiss, tak berjalan mulus. Pihak
GAM keberatan bertemu. "Selama ini, kami sudah berupaya melakukan
diplomasi, tapi selalu dibalas dengan peluru," kata Sofyan Daud, juru
bicara GAM ketika itu.
***
***

suasana pemakaman Teungku Lah
| AFP Photo
Sembilan tahun telah lewat.
Tak ada lagi perang yang membuncah. Tiga tahun setelah Teungku Lah tertembak,
pihak GAM dan pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian damai di Helsinki,
Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Perjanjian yang dikenal dengan MoU Helsinki
itu sekaligus mengakhiri konflik bersenjata selama 30 tahun.
Setelah damai datang, kuburan
Teungku Lah ramai dikunjungi orang. Mulai dari masyarakat biasa hingga mantan
petinggi GAM. Bahkan, Wali Nanggroe Tengku Hasan Tiro pun sempat berkunjung ke
sana saat kembali ke Aceh pada Oktober 2008.
Kuburan Tengku Lah dibangun
dengan sederhana dan hanya dikelilingi teralis besi. Beberapa helai kain putih
terikat di pohon jarak yang ditanam di makam. Kain-kain itu diikat oleh warga
yang berkunjung dan peulheuh kaoy (melepas nazar) di sana.
Sementara itu, nun jauh di
seberang Geurutee, sekitar delapan jam perjalanan dari makam Teungku Lah,
seorang arakata memutar otak untuk memugar makam sang panglima. Arakata adalah
sebutan dalam struktur GAM untuk jabatan sekretaris. Lelaki itu, Azhar
Abdurrahman, sang arakata wilayah Meureuhom Daya yang kini menjabat bupati Aceh
Jaya.
Berkunjung ke makam Tengku Lah
sekitar dua bulan lalu, Azhar terenyuh melihat kondisi makam. Ia pun tergerak
hatinya untuk memugar kembali makam sang panglima. “Beliau orang besar, mantan
panglima prang, tapi kuburannya sederhana sekali,” ujar Azhar.
Azhar memang belum
pernah bertemu langsung dengan Tengku Lah. Wajahnya hanya dilihat di koran dan
sesekali muncul di televisi. Meski begitu, Tengku Lah mendapat tempat khusus di
hati Azhar. Ketika Tengku Lah tertembak, Azhar mendapat kabar itu dari telepon
satelit. Seseorang dari komando pusat mengabari bahwa sang panglima telah
tiada. “Kami sangat berduka setelah mendapat kabar itu dan bertekad melanjutkan
apa yang sudah beliau perjuangkan,” kata Azhar.
Itu sebabnya, Azhar pun segera
merancang pemugaran makam. Ia berharap, masyarakat yang datang ke sana dapat
leluasa untuk sekedar berdoa atau peulheuh kaoy di sana. Diperkirakan,
pemugaran makam akan selesai dalam waktu satu setengah bulan atau sebelum masuk
bulan puasa tahun ini.
Bagi Azhar, Abdullah Syafie
adalah figur idolanya. Ia pun masih mengingat pesan Teungku Lah sebelum ajal
menjemput. "Jika suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah
syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu
bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh
telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri
ini (Aceh) merdeka".
Sembilan tahun setelah ajal
menjemput, meski tak disampaikan secara langsung, pesan itu masih
menancap di benak Azhar. Aceh sudah damai…[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar