![]() |
| GEMPA |
Agent of change and social control adalah kalimat yang melekat pada
mahasiswa yang identik dengan kelompok muda berpendiddikan. Mahasiswa juga
kelompok yang peka dengan kondisi masyarakat. Mahasiswa mempunyai sejarah
perjuanagan pajang. Komponen mahasiswa adalah orang – orang berpendidikan
tinggi yang mempunyai tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Mahasiswa di
anggap bergengsi, penuh nuansa intelektual, kebebasan dan tidak absent dalam
setiap gejolak perubahan social yang terjadi di negaranya. Mahasiswa adalah
elemen anak bangsa adalah kekuatan rakyat kaum intelektual dan menjadi basis
sosial.
Dalam lintasan sejarahnya, gerakan mahasiswa senantiasa memiliki karakter
gerakan yang sama yakni idealis (normatif), murni dan tanpa pamrih, pendobrak,
penentu momentum perubahan, oposisi dan didukung rakyat. Dikatakan idealis
karena apa yang disuarakan mahasiswa adalah nilai kebenaran universal berupa
nilai moral yang diakui bersama kebaikannya oleh seluruh masyarakat, yang di
suarakan mahasiswa seperti anti tirani, demokratisasi, berantas KKN, membela
kaum tertindas dll. . Berbeda dengan partai politik yang sarat dengan
kepentingan politik praktis seperti merebut kursi, mengincar jabatan menteri
dan menggulingkan pemerintahan, gerakan mahasiswa murni dari
kepentingan-kepentingan tersebut. Tidak pernah terbersit diagenda gerakan
mahasiswa untuk mengambil alih kepemimpinan atau mendapat jatah kursi di
parlemen. Disinilah letak keikhlasan gerakan mahasiswa.
Pada saat kondisi negara sedang stagnan dengan pembungkaman terhadap
suara – suara kritis , sesungguhnya kehadiran mahasiswa akan menjadi
katalisator untuk memecahkan kebuntuan dan menyuarakan kebisuan tersebut.
Mahasiswa menjadi moral force yang berada di garda terdepan sebagai penyuara
dan penggerak perubahan. Gencarnya seruan-seruan mahasiswa ini semakin lama
semakin lantang terdengar dan muncullah simpati rakyat dengan bentuk dukungan
(moral dan material) serta keterlibatan elemen-elemen masyarakat. Gerakan
perlawanan yang disimbolkan oleh aksi-aksi mahasiswa ini kemudian memuncak dan
terciptalah momentum perubahan itu dengan bentuk pople power, reformasi,
revolusi atau penggulingan rezim.Setelah momentum perubahan itu terjadi,
mahasiswa kembali ke tempat semulanya, yakni kampus dan melakukan ‘konsolidasi
akademik’.
Pertanyaannya kemudian adalah? apakah kronologis perubahan ini adalah
daur baku yang tak berubah? Apakah gerakan mahasiswa itu selalu hanya menjadi
pendobrak perubahan, dan proses lanjutannya dilaksanakan pihak lain? Apakah
sudah menjadi ‘takdir historis’ bagi mahasiswa menjadi Zorro yang muncul dikala
keributan dan menghilang saat penjahat sudah dikalahkan?
Tantangan Gerakan Mahasiswa hari ini
Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa, adalah wajib untuk kembali meletakkan
format gerakan mahasiswa dalam konteks internal mahasiswa dan lingkungan
sekitarnnya ( umat ). Dalam konteks Aceh pasca konflik dan tsunami, inflasi
yang cukup tinggi melebihi tingkat inflasi rata-rata nasional, di susul dengan
harga-harga yang melambung dan tingginya angka pengangguran telah menjadikan
masyarakat kelas bawah dalam kemiskinan permanen. Angka kemiskinan mendekati 40
persen dari empat juta rakyat aceh itu belum termasuk pengangguran intelektual,
sementara lahan pekerjaan semakin sempit.Demikian juga dibidang politik akan
senantiasa dipenuhi dengan isu KKN pejabat (Eksekutif, Legislatif dan
Yudikatif) dan sekarang terjadi konflik regulasi,yang hari ini MoU Helsinky dan
UUPA seakan-akan tidak ada guna lagi,disitulah gunanya Mahasiswa yang akan
menjadi polopor dan jembatan rakyat dalam menjaga UUPA,karena UUPA adalah
istitusi Aceh,yang harus kita jaga bersama.
Mahasiswa harus mampu megarahkan political will pemerintah daerah
khususnya untuk berpihak kepada rakyat, terutama rakyat miskin dan mereka yang
menjadi korban konflik dan korban pelanggaran HAM. Karenanya, kedaulatan kaum
intelektual mahasiswa harus di tegakkan kembali bukan hanya menjadi penyuara
“jalanan” tetapi ikut dalam mendorong dan mengawal pemerintah untuk konsisten
dan berpihak kepada rakyat. Paradigma mahasiswa yang selama ini terjebak dalam
rutinitas dunia kampus atau menjadi partisan sebuah kekuatan politik praktis,
harus di luruskan kembali dengan menelaah dan meluruskan tugas dan fungsi
mahasiswa itu sendiri.Rutinitas kuliah,praktikum,skripsi dan dead line study
yang semakin mepet, telah memaksa mahasiswa untuk meninggalkan dunia kampus
dalam tempo yang sesingkat – singkatnya. Sisi lain gempuran globalisasi liar
telah menggiring mahasiswa pada gaya hidup pragmatis, hedonis, individualis,
apatis dan melenakan, kembali harus di sadarkan ulang.
Sayangnya, kondisi Aceh yang begitu genting hari ini dengan sekian
persoalan yang di hadapinya, tidak juga serta merta membangkitkan heroisme
perjuangan mahasiswa. Hal ini tentunya karena mahasiswa sendiri menghadapi
persoalan internal yang juga semakin pelik. Kembali lagi mahasiswa menjadi
sangat sibuk dengan ritual kampus seperti kuliah, praktikum, dan lain-lain.
Sementara dead line studi saat ini semakin mepet. Faktor ekonomi juga ikut
memaksa mahasiswa untuk meninggalkan dunia kampus secepatya. Sementara itu,
mahasiswa kita setiap harinya dihujani gaya hidup yang pragmatisme dan hedonis
yang melenakan. Sehingga semakin sulitlah gerakan mahasiswa memperoleh dukungan
dari mahasiswa itu sendiri. Sementara mata kuliah yang diajarkan tidak secara
langsung menyadarkan mahasiswa akan kondisi sosial-politik disekitarnya.
Format Gerakan Mahasiswa
Untuk menjamin bahwa gerakan mahasiswa akan tetap berada pada arah
gerakannya maka harus ditanamkan nilai-nilai ideologis yang menjadi ruh
perjuangan gerakan mahasiswa. Dengan hal ini diharapkan bahwa gerakan mahasiswa
akan tetap memiliki komitmen perjuangan, semangat dan istiqomah. Tidak mudah
terjual dengan kedekatan pada kekuasaan ataupun fasilitas-fasilitas yang
diberikan. Nilai-nilai ideologis juga sangat membantu dalam menciptakan kader
yang militan dan sekaligus menyiapkan kader pemimpin bangsa yang tetap berada
pada komitmen perjuangan. Meskipun demikian gerakan mahasiswa selayaknya
senantiasa melakukan dialog antar sesama elemen gerakan mahasiswa, sehingga isu
yang digulirkan akan cepat membesar dan tidak terkesan perjuangan elemen
tertentu. Aliansi gerakan mahasiswa harus lebih sering dilaksanakan ketimbang
aksi individu institusi, dengan menggunakan prinsip ‘bekerjasama dalam hal yang
disepakati dan toleransi dalam hal-hal yang berbeda’.
Terakhir, agar gerakan mahasiswa tetap mendapat dukungan dari rakyat.
Isu-isu yang dibawa oleh gerakan mahasiswa harus mampu dikemas dengan baik
sehingga menyentuh kepentingan rakyat secara langsung. Kedua, gerakan mahasiswa
harus berinteraksi dengan masyarakat, tidak melulu dengan aktivitas politik
elit. Meskipun juga tidak harus terjebak dengan gaya-gaya LSM yag sekarang ini
sangat banyak di Aceh. Setidaknya gerakan mahasiswa mampu menjadi penghubung
antara masyarakat dan gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat.
“Sapue Kheun Sapue Pakat Sang seu Neusab Yang
Meu Adoe A
Udep Beusare Mate Beusajan Sikrek Gafan Soboh Keurunda”
Salam Perjuangan
Gerakan Mahasiswa Pase

Tidak ada komentar:
Posting Komentar