Tampilkan postingan dengan label Artikel Atjeh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Atjeh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

Orang Yang Menyumbang Emas Tugu Monas



Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam , salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.


Orang-Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu.
Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer.
Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia meninggal dunia. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.
Siapakah Teuku Markam ?
Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

TEUKU MARKAM BEN TEUKU MARHABAN
Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.
Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena “disiriki” oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.
Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor – impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.
Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.
Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.
Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.
Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.
Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. “Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya,” kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.
Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.
Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus “pinjaman” yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari.
Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.
Proyek Bank Dunia
Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen – Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain.

Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu.
Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang.


Garuda Pancasila dan Samudra Pasai

Sudah dibaca belum artikel Garuda Berevolusi ?
Jika sahabat semuanya sudah membacanya, tidak sulit untuk mencerna post kali ini. Karena akan tetap dalam kerangka membahas Lambang Negara NKRI, yakni Garuda !!
Garuda yang kita kenal selama ini, merupakan produk dari Panitia Lencana Negara, dan diperolehlah bentuk sempurna dari Garuda Pancasila seperti yang kita lihat selama ini, dan contohnya ada di atas :D
Kali ini, ada kabar yang cukup mengejutkan, dimana ada kemiripan antara Lambang Negara tersebut dengan lambang salah satu Kerajaan Islam yang pernah besar di Nusantara dan tertua di Aceh , tahukah itu apa? Yap!! Samudra Pasai!!
Samudera Pasai yang termasuk dalam Kerajaan tertua di Indonesia dan terletak di Aceh.
sumber photo : http://insulinda.files.wordpress.com
lambang Samudera Pasai yang mirip dengan garuda.
Jika diperhatikan sekilas, lambang kerajaan Aceh itu memang mirip dengan Garuda Pancasila. Lambang itu dibentuk dari kaligrafi arab menyerupai burung garuda. Di bagian tengah badannya terlihat kotak dengan rangkaian tulisan berwarna merah dan biru. Lambang ini berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.
Sedangkan pada Garuda Pancasila, yang menjadi lambang negara RI, memang dari bentuk burung asli, dengan simbol-simbol sila dalam Pancasila di tengah tubuhnya. Kemudian garuda itu mencengkram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Bulu-bulu pada Garuda Pancasila dimaknai sebagai hari peringatan Proklamasi kemerdekaan RI, 17-8-1945.
17 helai bulu pada sayapnya melambangkan tanggal 17 hari kemerdekaan Indonesia, 8 helai bulu pada ekornya bermakna bulan Agustus sebagai bulan kedelapan, dan ke 45 helai bulu pada lehernya melambangkan tahun 1945.
Lambang Garuda Pancasila dibuat oleh Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II (Sultan Hamid II) yang menang mengikuti sayembara lambang negara yang diadakan oleh Presiden Sukarno. Kemudian, Garuda ditetapkan sebagai lambang Negara RI pada 11 Februari 1950 yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951. Lalu Sukarno memperkenalkan lambang itu kepada masyarakat pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.
Dalam beberapa bulan terakhir muncul klaim dari R Indra S Attashi, keturunan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Menurut Indra, gambar yang dimilikinya adalah warisan dari Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi.
Perihal lambang Negara Indonesia mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikulsaleh Aceh Utara. Setelah digelar seminar International Conference and Seminar “Malikussaleh; Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.
Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.
Ibrahim menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai. Menurutnya, perlu pengkajian lebih lanjut.
Terlepas dari klaim inspirasi Garuda dari Kerajaan Samudera Pasai dan sebagainya, seperti dipaparkan sejarawan Aswi Warman Adam, justru ini merupakan kecintaan terhadap bangsa Indonesia

HADIH MAJA

, Adakah saat ini Watak dan Prilaku Bangsa Aceh sesuai dengan Hadih Maja..???
Hadih Maja atau Nariet Maja ialah suatu perkataan atau pribahasa didalam kehidupan masyarakat Aceh. Hadih Maja ini mengandung unsur filosofis, yang digunakan sebagai nasehat/peringatan/penjelasan atau sindiran halus agar menjadi pedoman didalam menjalani kehidupan.
Dibawah ini saya papar beberapa hadis maja :
1. Anéuk dônya jinôë, tuha jih nyôn geutanyôë.
2. Aleè tob beulacan,barangkapéu ta kheun maleè tan(nyang maleè ureung jak sajan).
3. Anéuk sithôn tangkeh, ta peugah meunoë dji kheun meudéh.
4. Asai cabôk nibak kudè, asai pakè nibak seunda.
5. Aseë beu that ta lhat pawôn bak takuë, nyang jih aseë cit.
6. Aseë blang nyang pajôh jagông, aseë gampông nyang keunông geulawa.
7. Ata han jeut ta meunari, ta peugah tika hana gét.
8. Awai buét dudoë piké, teulah ôh akheé keupéu lom guna.
9. Awai ji duék deungôn ji tinggông (Awai ji nyuë deungôn ji duék).
10. Awai geulurông dudôë geu larang, pane ék leukang gaséh ka meusra.
11. Aweuk sabeé lam meusanthôk deungôn beulangông.
12. Bak gob mupakeè bek gata pawang, bak gob muprang bek gata panglima.
13. Bak ië laôt peu tabôh sira.
14. Bak nyang gatai, sinan tagarô (Gatai bak jarôë, tagarô bak gaki).
15. Bak si buta ta yuë béut kitab, bak si bangsat ta yuë meu dôa.
16. Bak ta tunyôk bek meu iséuk, bak ta peuduëk beu meulabang.
17. Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantung ka putôh.
18. Bak kareèng pane na gapah.
19. Baranggadum raya ië kruëng, nyéng ge bileung ië kuala
Baranggadum buét rakyat, nyang geu bileung buet raja
20. Bek lageé bôh truëng lam jeu’è, hô nyang singèt keunan meurôn.
21. Bek leupah haba, bah leupah buët.
22. Bek taharap ké teuga gob.
23. Bek ta peurunôë buë méu ayôn (Bek ta peurunôë rimuëng pajôh sië).
24. Bit pih phui bak ta kalôn, geuhôn bak ta tidjik.
25. Bit pih takalôn miseé meu kuwèt, umu lon goh treb aneuk goh lom na.
26. Nyawông saboh, barangkapat pih mateé.
27. Bôh ru pirak geu sawak bak leungké leumô, Sinoë geujak, sideh pih geujak, ’oh meureumpôk sabe pungô.
28.Bôh seureuba rasa, peunajôh ureung dusôn,
Yoh gôh, ta lakeè rasa; ôh ka, ta lakeè ampôn.
29. Bubeè lam ië, ië lam bubeè, Hana ta thèë, cucô ka na.
30. Buét walanca-walance, awai pu buét dudôë pikè.
31. Buét ka keumah, keureuja ka jadéh.
32. Buya kruëng teu dông-dông, buya tamông meuraséuki.
33. Digôb geu criek ija di keudé, digeutanyôë ta criek ija di keuiëng.
34. Digôb nyang na karam di laôt, digeutanyôë karam di darat.
35. Djada wa djadi, méunan ta pinta méunan jadi.
36. Djak teu bungkôk-bungkôk, bak duëk teu leumièk-leumièk.
37. Djampôk pujôë droë.
38. Djarak ta jak le péu ta éu, trèb ta udèp lé péu ta rasa.
39. Djarôë uneun tak, jarôë wiè tarèk.
40. Djirhom geutanyôë deungôn èk leumô, ta rhom jih nyôn èk guda.
41. Duék di gampông wèt-wèt purèh, dilikôt inông maguën.
42. Eungkôt di laôt, asam di darat; musapat lam beulangông.
43. Gaseh, meunyô hana péu ta bri, hana leumah.
44. Get su nibak buët.
45. Geumadè ureung kaya.
46. Geutanyôë grôb, patah pha-pha; laba tan sipadè.
47. Geutanyôë meung ka tuha, sakri han kéumah le.
48. Geutanyôë nyôn syedara, tôë bek, jarak pih bek.
49. Geutak sapat, dua pat lhut. (sigô tak, dua pat lhut)
50. Gôb kab campli geutanyôë nyang kéu-éung
Gob meuanéuk geutanyôë madéung.
51. Gôb séuméusië, geutanyôë tak tuléung.
52. Gôb pajôh bôh panah, tanyôë nyang méuligan géutah.
53. Gôh lom wôë pangkai, ka takira laba.
54. Hana buët mita buët; badan payah, kémiroë téusuët.
55. Hana brat ureung nyang mè, brat ureung kalôn.
56. Hana méugruk-gruk, béuna méugrek-grek.
57. Hana meukab, beuna meukib; hana nyang lé, beuna nyang dit.
58. Hana nyang mé ië méu sidrôë, bandum méu apui.
59. Hana sakèt geutob ngôn rincông, leubeh sakèt géungièng ngôn iku mata.
60. Hana ta tuôh maguën, sikai han sèb, sicupak han abèh.
61. Hana ubat.
62. Harap kéu pagéu, pagéu pajôh padeè; harap kéu jantông, jantông jithôk hateè.
63. Hina bak dônya aréeuta téuh tan, hina bak Tuhan èlemeè hana.
64. Hô taba geulinyuëng gôb bôh.
65. Hu muka.
66. Ija pinggang ija inggôt; urôë tapinggang malam ta limbôt.
67. Ikat leumo lam lampôh gob.
68. Intan saban-saban, haréuga méulaèn-laen.
69. Yôh masa réubông han tatèm ngiëng, ‘oh jeut ke triëng han èk lè ta puta.
70. Ka gadôh lam mata bek gadôh lam hatè.
71. Kayèm tajak géu tiëk situëk, jaréung ta jak taduëk geu bri tika.
72. Karèng thô bilèh léubôt; péunyakèt sôt meu ulang téuma.
73. Ka rôh ta méukat sira lam ujeuën.
74. Kapai di hôë le jalô.
75. Keupëu guna ië padè ka layeè; yôh ku tèm keè han tatèm gata.
76. Kéuréulèng nggang cit ke abéuk, kéuréulèng kuék cit kéu paya, Méung hana lintah ngon cangguëk, pu buët kuék dalam paya
77. Kullu nafsin géubeët di uleè, nyan barô ta theè ta tinggai dônya.
78. Ku ‘o-’o ku déungô han, ji anggôk kuanggôk, ku putrôk han.
79. Laba beuna, pangkai béu that bek.
80. Laba-labôh, meukri jiba meukri tabôh.
81. Lagak lageè udëung tèb, silewèu puntông kupiah phèb.
82. Lagee anéuk dara meutumeè subang.
83. Lagee anéuk buya teungôh cabak.
84. Lageè aseë pungô.
85. Lageè aseë lôb pagéuë.
86. Lageè awéuk ngon beulangông.
87. Lageè bak jôk lam utéuën, masèng-masèng peuglah pucôk drôë.
88. Lageè biëng phô.
89. Lageè bôh mamplam di wië, sikin di unéuën.
90. Lageè jalô ikat bak jalô.
91. Lageè ji réubôh ngôn ië léupië.
92. Lageè éungkôt thô paya.
93. Lageè kajak méunan kawoë.
94. Lageè kamèng jak atéuh bateè.
95. Lageè kamèng kab situëk.
96. Lageè kamèng ji pe ayéum ngôn kulèt pisang.
97. Lageè kamèng èh lam brôh.
98. Lageè manôk kemarôm.
99. Lageè mië sube èk.
100. Lageè mirahpati séuiët. Kemarin jam 14:42 · Suka ·  2
‎101. Lageè rimuëng ek bak kayeè, jeut di èk han jeut dji trén.
102. Lageè si buta ka teu bléut.
103. Lageè ta ngiëng bôh mamplam masak.
104. Lageè ta peurakan rimuëng ngôn kamèng.
105. Lageè ta péutupat kayeè céukôk.
106. Lageè ta côk leumo rhét lam môn, ôh lhéuh ta peu téungôh, ji pék geutanyôë.
107. Lageè tikôh lhéuh lam eumpang bréuh.
108. Lageè ureung mateè peurumôh.
109. Lageè ureung peh tèm.
110. Lageè utôh meunasah, gob péubuët gobnyan péugah.
111. Lam ta khèm-khèm dji céukak.
112. Langkah, raseuki, péu tumôn, maôt; hana kuasa geutanyôë hamba.
113. Léumo ka ék ta bloë, taloë han ék ta péuna.
114. Lhéuh bak buya, meu kumat bak rimuëng.
115. Mamèh bek bagah ta uèut, phèt bek bagah ta ulè.
116. Mangat asoë.
117. Mata uroë sigô sahô; ija barô sigô sapô.
118. Meukrôb-krôb lageè séungkô lam eumpuëng.
119. Méunasu meh-môh méukawen dua.
120. Méung hana angèn, paneè mumèt ôn kayeè.
121. Méung hana peng lam jarôë, séupôt lam nanggrôë peungéuh lam rimba.
122. Méung ka ta keubah, ka mangat bak tacôk.
123. Méung ka na ija barô, ka talô ija tuha.
124. Méung na ta keubah, nakéuh peu tacôk.
125. Méunyô galak ta meuséunda, bek ta kira luka asoë.
126. Méunyô hana sië kamèng, uleè kareèng pih mumada.
127. Méunyô utôh peulaku, bôh labu jéut keu asoë kaya.
128. Méunyô ta béunci cit lé peu dalèh, méunyô ta gaséh salah pih beuna.
129. Muka lageè mië pajôh anéuk.
130. Mumèt ôn kayeè lon téupeu cicèm, teusinyôm teukhèm lôn teupéu bahsa.
131. Nabsu kéu putik, ta cukô misè.
132. Nibak pagéu kông jeunerôp, nibak syèdara kông gob.
133. Nibak sihèt bah rhô.
134. Nibak ta aseèk, gét ta anggôk; béuthat brôk-brôk asai ka na.
135. Nit pih sèb, le pih habeh.
136. Nyang blôë buta, nyang publôë tulôë.
137. Nyang na bek ta péutan, nyang tan bek ta péuna.
138. Ôh lhéuh lhôk kôn dhéu.
139. Buèt ka dileè jinôë barô kéumah.
140. Panè meusu jarôë ta téupôk siblah.
141. Pèng abèh gasèh pih kuréung, péu lôm tatuëng kamôë ka hina.
142. Péu méunôë péu méudeh, bu han lét padeè abèh.
143. Péu payah méung ta pét, pula cit ka gob.
144. Péuleupië hateè.
145. Péunyakèt tablôë, utang ta péuna.
146. Peurôh-rôh drôë lageè eungkôt lam cawan.
147. Prang gôh jéut kuta ka réulôh, musôh goh trôh geutanyôë ka cidra.
148. Réudôk na ujéun tan.
149. Sabab lham bak djôk, téubôh lham beusôë, Sabab sidroë ureung brôk, busôk ban sabôh nanggrôë
150. Sayang kéu sira sijéumpèt, teubôh sië sabôh beulangông.
151. Salah aweuk taplah béulangông, salah inông aneuk tatampa.
152. Seupôt buléun lheè ploh.
153. Sia payah lôn liméuh léuhôb, bace ulôn drôp kuah gob rasa.
154. Sigitu irang, ubeè blang irôt.
155. Silab mata, putôh takuë.
156. Sôm kaya, peuléumah gasiën.
157. Sulèt mupalèt, tupat seulamat.
158. Su ubeè reudôk.
159. Tabri pih kutuëng, tatuëng pih kubri; Ta peugah kri bek ta iëm drôë.
160. Ta yuë jak di keë, djitôh géuntôt; ta yuë jak dilikôt djitrôm tumèt.
161. Ta jak jareung géubri tika duëk, ta jak kayèm geu jôk situëk.
162. Ta blôë han èk, ta bayéu èk.
163. Tahuë leumô deungôn talôë, tahuë manusia deungôn akai.
164. Ta keumeung pô hana sayéup.
165. Ta kira kéu ië mata gôb si titèk, rhô ië mata drôëteuh meubram-bram.
166. Ta méuèn ngôn apui tutông, Ta méuèn ngôn ië basah, Ta méuèn ngôn sikin téusië.
167. Ta méungôn ngôn aneuk miët, Ta manôë djipecéukô ië, ta pajôh bu djiséungéu eungkôt.
168. Ta méurakan deungôn ureung malèm, treb-treb jeut kéu teungku.
169. Tangah atéuh sabeè.
170. Ta côk han trôh, ta cunthôk rhô kuah.
171. Tikôh sabôh ureung pôh sireutôh.
172. Campli han leè keu’éung, sira han leè masèn.
173. Udèb péuléumah tempat, mateè péuléumah jirat.
174. Utang ka na èt kéiëng.
175. Ta seut ië laôt deungôn paléut jarôë.
176. Khèm gôb khèm géutanyôë, ata jipeukhèm cit géutanyôë.
177.Adat bak Poe Teu Meurehom
Hukum bak Syiah Kuala,
Qanun bak Putroe Phang,
Reusam bak Laksamana.

181.Pantang peudeueng meubalek sarong,
Pantang rincong meubalek mata,
Pantang ureueng diteu’oh kawom,
        Pantang hukom peujeuet peukaru


SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN SAMUDERA PASAI

Kapan sebenarnya Kerajaan Islam Samudera Pasai berdiri tidak ada suatu kepastian tahun yang didapat. Para peminat dan ahli sejarah masih belum bisa memperoleh suatu kesepakatan mengenai hal ini. Menurut tradisi dan berdasarkan penyelidikan atas beberapa sumber sementara , terutama yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat khususnya para sarjana Belanda sebelum perang seperti Snouck Hurgronye, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain, menyebutkan, bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke XIII. Dan sebagai pendiri kerajaan ini adalah Sultan Malik As Salih yang meninggal pada tahun 1297.


Selain pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana Belanda itu, baik dalam seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan sejak tanggal 17 s/d 20 Maret 1963, maupun dalam seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh yang berlangsung di Banda Aceh pada tanggal 10 s/d 16 Juli 1978, oleh beberapa sejarawan dan cendikiawan Indonesia (diantaranya Prof. Hamka, Prof. A.Hasjmy, Prof. H.Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said dan M.D. Mansoer) yang ikut serta dalam kedua seminar tersebut telah pula melontarkan beberapa pendapat dan dalil-dalil baru yang berbeda dengan yang lazim dikemukakan oleh para sarjana Belanda seperti tersebut di atas.

Berdasarkan beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru yang mereka kemukakan diantaranya keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh ,mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M). Dan sebagai pendiri serta sultan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470 H atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.

Atas dasar peninggalan-peninggalan dan penemuan-penemuan dari hasil penggalian dan yang dilakukan oleh Dinas Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dapat diketahui bahwa lokasi kerajaan ini di daerah yang dewasa ini dikenal dengan nama Pasai. Yaitu suatu daerah di pantai Timur Laut Pulau Sumatera yang terletak antara dearah Peusangan dengan Sungai Jambo Aye di kabupaten Aceh Utara, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang menyelidiki tentang kerajaan ini menyatakan bahwa Pasai mula-mula terletak di sebelah kanan Sungai Pasai, sedangkan Samudera berada di sebelah kirinya, tetapi lama kelamaan Samudera dan Pasai ini menjadi satu dan disebut Kerajaan Samudera Pasai

Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke XIII dan ke XIV M. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat. Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai . Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke VII M, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia, berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.

Sehubungan dengan asal nama kerajaan Samudera Pasai ini, Hikayat Raja-raja Pasai salah sebuah Historiografi Melayu yang banyak mengandung unsur-unsur Mythe, Legende, Geneologi dan Sejarah di dalamnya , memberi suatu keterangan yang berkaitan dengan totemisme, yaitu disebutkan antara lain:
“…pada suatu hari merah Silu pergi berburu. Maka ada seekor anjing dibawanya akan perburuan Merah Silu itu bernama si Pasai. Maka dilepaskannya anjing itu lalu menjalak di atas tanah tinggi itu. Maka dilihatnya ada seekor semut besarnya seperti kucing maka ditangkapnya oleh erah Silu itu lalu dimakannya. Maka tanah tinggi itupun disuruh Merah Silu tebas pada segala orang yang sertanya itu. Maka setelah itu diperbuatnya akan istananya. Setelah sudah maka Merah Silupun duduklah ia di sana dengan segala hulubalangnya dan segala rakyatnya diam ia di sana maka dinamai oleh Merah Silu negeri Samudera, artinya semut yang amat besar.

Selanjutnya tentang asal nama Pasai, baik Hikayat Melayu maupun Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan sebagai berikut:
“…setelah sudah jadi negeri itu maka anjing perburuan yang bernama si Pasai itupun matilah pada tempat itu. Maka disuruh sultan tanamkan dia di sana juga. Maka dinamai baginda akan nama anjing nama negeri itu”.

Kalau kita berpegang dari keterangan kedua hikayat yang mithologis tersebut, maka nama Samudera berasal dari nama seekor semut besar dan nama Pasai berasal dari nama anjingpiaraan Raja merah Silu, yaitu si Pasai. Hal ini sangat menarik untuk diselidiki lebih lanjut, sejauh mana terdapat hubungan antara totemisme dengan usaha pemberian keterangan tentang asal dan arti kerajaan Islam Samudera Pasai itu. Karena lazimnya untuk nama kerajaan-kerajaan di Nusantara ini sebelum tahun 1500, diambil dari nama pohon, buah-buahan dan lain sebagainya.

Seperti juga disebutkan dalam kedua hikayat tersebut di atas, bahwa raja Samudera Pasai yang pertama sekali menganut agama Islam adalah Malik As Salih. Pada nisan sultan ini yang dibuat dari batu graniet dapat diketahui bahwa ia mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.Tentang bagaimana dan siapa yang mengembangkan agama Islam buat pertama kali di kerajaan ini, Hikayat Raja-raja Pasai antara lain meyebutkan sebagai berikut:
“…pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat jang maha mulja itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda: “Bahwa ada sepeninggalku itu ada sebuah negeri di atas angin samudera namanja. Apabila ada didengar kabar negeri itu maka kami suruh kamu sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa ia orang dalam negeri masuk agama Islam serta mengutjapkan dua kalimah sjahadat. Sjahdan lagi akan didjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanjak daripada segala wali Allah djadi dalam negeri itu”.

Dan tentang pengislaman serta penggantian nama Raja Merah Silu dengan nama yang baru Malikul Salih, hikayat itu juga memberi keterangan:
“Sebermula maka bermimpi Merah Silu dilihatnja dalam mimpinja itu ada seorang-orang menumpang dagunya dengan segala djarinja dan matanja ditutupnja dengan empat djarinja, demikian katanja: “Hai Merah Silu, udjar olehmu dua kalimah Sjahadat”.

Maka sahut Merah Silu “Tiada hamba tahu mengutjap akan dia”.

Maka Udjarnya: “Bukakan mulutmu”. Maka dibukanja mulut Merah Silu, maka diludahinja mulut merah silu itu rasanya lemak manis. Maka udjarnja akan merah silu “Hai Merah Silu engkaulah Sultan Malikul’-Saleh namamu sekarang Islamlah engkau dengan mengutjap dua kalimah itu…”

Hikayat itu juga menyebutkan bahwa orang yang menyebarkan/mengislamkan Sultan Samudera Pasai itu adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Rasul Allah Salla’llahu’alaihi wasallam, yaitu seorang Syarif berasal dari Mekah yang bernama Syarif Syaih Ismail .

Selain menurut hikayat tersebut, tradisi setempat juga menyebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah itu adalah Sultan Malik Al Salih. Tetapi menurut catatan atau suatu sumber yang dimiliki oleh M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa pada awal bulan Zulkaidah 610 Hijrah (1213 M), telah meninggal di kerajaan itu (Samudera Pasai) seorang Wazir Sultan Al Kamil yang bernama Maulana Quthubulma’ali Abdurrahman Al Pasi. Kalau sumber ini benar maka keterangan tersebut bermakna bahwa jauh sebelum Malik As Salih sudah terdapat sultan yang memeluk agama Islam di kerajaan itu. Seperti telah disebutkan bahwa raja Samudera Pasai yang pertama berdasarkan sumber sejarah yang konkrit ialah Malik As Salih yang meninggal tahun 1297. Kalau dalam tahun 1297, kita kenal sebagai tahun kematian raja itu, tentunya masyarakat Islam di kerajaan itu telah terdapat jauh sebelumnya. Karena pertumbuhan sesuatu biasanya menghendaki suatu proses, suatu tempo yang lama. Demikian juga dari keterangan yang diberikan Hikayat Raja-raja PasaiI seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa Nabi Muhammad telah menyebutkan nama kerajaan Samudera dan juga agar penduduk kerajaan itu diislamkan oleh salah seorang sahabat beliau, maka bukan tidak mungkin Islam sudah masuk ke kerajaan itu tidak lama sesudah Nabi Muhammad wafat. Jadi pada sekitar abad pertama Hijrah atau bertepatan dengan abad ketujuh/kedelapan tahun Masehi. Dan dapat pula diperkirakan bahwa Islam yang masuk itu langsung datang dari Mekah.

Bukanlah maksud penulis di sini untuk membuat suatu uraian panjang lebar tentang masalah proses masuknya Islam ke Kerajaan Samudera Pasai. Sebagaimana telah penulis singgung pada awal tulisan ini, adalah masih sangat sukar untuk merekonstruksikan sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Indonesia pada periode sebelum tahun 1500, oleh karena bukti sejarah tentang hal itu masih belum memadai. Di sini penulis hanya mencoba merangkaikan suatu gambaran sejarah berdasarkan tulisan-tulisan yang telah ada tentang kerajaan itu. Maka untuk mendapat suatu gambaran historis dari perkembangan Kerajaan Islam Samudera Pasai, berikut ini akan ditinjau beberapa aspek, terutama tentang sistem sosio kulturil yang penulis perkirakan berlaku di kerajan itu.

Seperti diketahui, Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan yang bercorak Islam dan sebagai pimpinan tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah secara turun temurun. Lazimnya kerajaan-kerajaan pantai atau kerajaan yang berdasarkan pada kehidupan/kejayaan maritim yang termasuk dalam struktur kerajaan tradisionil kerajaan-kerajaan Melayu, seperti kerajaan Islam Samudera Pasai, disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.

Sebagaimana lazimnya sebuah kerajaan maritim, Kerajaan Islam Samudera Pasai dapat berkembang karena mempunyai suatu kekuatan angkatan laut yang cukup besar menurut ukuran masa itu dan mutlak diperlukan untuk mengawasi perdagangan di wilayah kekuasaannya. Dan karena sebagai kerajaan maritim, kerajaan ini sedikit sekali mempunyai basis agraris yang hanya diperkirakan berada sekitar sebelah –menyebelah sungai Pasai dan sungai Peusangan saja, dimana terdapat sejumlah kampung-kampung (meunasah-meunasah) yang merupakan unit daripada bentuk masyarakat terkecil di wilayah Samudera Pasai pada waktu itu. Dan selain itu meunasah-meunasah ini merupakan lembaga-lembaga pemerintahan terkecil pula dari Kerajaan Samudera Pasai pada waktu itu.

Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran di kota-kota pantai yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Samudera Pasai merupakan sendi-sendi kerajaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar selain upeti-upeti yang dipersembahkan oleh kerajaan-kerajaan di bawah pengaruhnya. Perdagangan yang menjadi basis hubungan-hubungan yang tetap dengan kerajaan-kerajaan luar seperti dengan Malaka, Cina, India dan sebagainya, telah menjadikan Kerajaan Islam Samudera Pasai sebagai sebuah Kerajaan Islam yang sangat terkenal dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara terutama pada abd ke XIV dan XV. Karena kebesarannya itu, maka Kerajaan Islam Samudera Pasai telah pula dapat mengembangkan penyiaran agama Islam ke wilayah-wilayah lainnya di Nusantara pada waktu itu.

Diantaranya ke Minangkabau, Palembang, Jambi, Patani, Malaka, Jawa dan beberapa kerajaan pantai di sekitarnya. Pada abad ke XIV Kerajaan Islam Samudera Pasai menjadi pusat studi agama Islam dan juga tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negara Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keduniawian dan keagamaan. Berdasarkan berita dari Ibn.Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345/6, kerajaan ini berada pada puncak kejayaannya. Ibn-Batutah berada dikerajaan ini selama dua minggu dan telah melihat banyak tempat ini(kraton Samudera Pasai), mempunyai benteng di sekelilingnya. Dia telah diterima oleh wakil laksamana di Balairung dan telah diberi persalinan menurut adat setempat. Pada hari ketiga di sana Ibn Batutah mendapat kesempatan untuk menghadap sultan yang memerintah pada ketika itu yaitu Sultan Malikul Zahir yang dianggapnya sebagai sultan yang termasyur dan peramah. Selama di Samudera Pasai Ibn Batutah telah berjumpa dengan tiga orang ulama terkenal, yang masing-masing bernama Amir Dawlasa berasal dari Delhi (India), Kadi Amir Said berasal dari Shiraz dan Tajuddin berasal dari Ispahan. Dan disebutkan bahwa sultan Samudera Pasai sangat suka berdiskusi masalah-masalah agama dengan ulama-ulama itu.

Dengan melihat Samudera Pasai sebagai pusat studi dan pertemuan para ulama seperti tersebut di atas dan sesuai dengan yang telah diutarakan oleh Prof.A.Hasjmy, bahwa banyak sekali tokoh dan para ahli dari berbagai disiplin pengetahuan yang datang dari luar seperti dari Persia (bagian dari Daulah Abbasiyah) untuk membantu kerajaan Islam Samudera Pasai, maka dapat dipastikan bahwa sistem dan organisasi pemerintahan di kerajaan itu, tentunya seirama dengan sistem yang dianut oleh pemerintahan daulah Abbasiyah. Dan menurut catatan Ibn Batutah, diantara pejabat tinggi Kerajaan Islam Samudera Pasai yang ikut melepaskan sultan meninggalkan mesjid di hari Jum’at yaitu Al Wuzara (para menteri) dan Ak Kuttab (para sekretaris) dan para pembesar lainnya . Selain itu menurut catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:
1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof.A.Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Untuk lebih mempererat hubungan antar kerajaan-kerajaan yang berada di bawah pengaruh Samudera Pasai ditempuh pula lewat jalan perkawinan. Dapat disebutkan di sini misalnya, perkawinan antara putri-putri dari Kerajaan Perlak dengan sulthan-sulthan Kerajaan Samudera Pasai. Selain itu juga Raja Malaka yang pertama Parameswara setelah memeluk agama Islam telah mempersunting puteri Kerajaan Pasai sebagai isterinya. Dan dengan adanya perkawinan ini telah meningkatkan pula hubungan perdagangan antara Malaka dengan Kerajaan Samudera Pasai. Juga pada masa kejayaan kerajaan ini seorang ulama Pasai yang bernama Fatahillah, telah melakukan dakwah Islam sampai ke Pulau Jawa. Dan setelah mengislamkan Banten serta memperisteri putri dari kerajaan tersebut, kemudian mendirikan suatu kesultanan di sana.

Berdasarkan beberapa mata uang emas yang disebut deureuham, yang berhasil diketemukan sebagai sebagai salah satu peninggalan dari kerajaan itu, menunjukkan bahwa kerajaan Islam Samudera Pasai cukup makmur pada kurun waktu seperti tersebut di atas. Karena sebuah kerajaan yang dapat menerbitkan mata uang emas sendiri pada masa itu, menandakan bahwa kerajaan itu cukup makmur menurut ukuran masa itu. Mata uang emas Kerajaan Samudera Pasai ini telah diperkenalkan pula oleh orang-orang kerajaan itu ke beberapa bandar perdagangan di Nusantara pada waktu itu, diantaranya ke bandar Malaka.

Atas dasar mata uang emas yang pernah diketemukan itu, dapat diketahui pula beberapa nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Islam Samudera Pasai. Menurut T. Ibrahim Alfian yang mendasarkan atas mata uang emas tersebut, urutan-urutan raja yang memerintah di kerajaan tersebut adalah sebagai berikut: sebagai sulthan yang pertama adalah sulthan Malik As Salih yang memerintah pada tahun 1297. Sulthan ini diganti oleh puteranya yang bernama Sulthan Muhammad Malik Az Zahir (1297-1326); sebagai sulthan yang ketiga yaitu sulthan Mahmud Malik Az-Zahir (1326 ± 1345); sulthan yang keempat adalah Mansur Malik Az-Zahir (?- 1346); sulthan yang kelima adalah Sulthan Ahmad Malik Az-Zahir yang memerintah (ca. 1346-1383); sebagai sulthan yang keenam yaitu Sulthan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir yang memerintah (1383-1405); sulthan yang ketujuh yaitu Sultanah Nahrasiyah, yang memerintah (1405-1412); sebagai sulthan yang kedelapan yaitu Sulthan Sallah Ad-Din yang memerintah (ca.1402-?); sulthan yang kesembilan yaitu Abu Zaid Malik Az-Zahir (?-1455); sebagai sulthan yang kesepuluh yaitu Mahmud Malik Az-Zahir, memerintah (ca.1455-ca. 1477); sulthan yang kesebelas yaitu Zain Al-‘Abidin, memerintah (ca.1477-ca.1500); sebagai sulthan yang sebagai kedua belas yaitu Abdullah Malik Az-Zahir, yang memerintah (ca.1501-1513); dan sebagai sulthan yang terakhir dari Kerajaan Islam samudera Pasai adalah Sulthan Zain Al’Abidin, yang memerintah tahun 1513-1524.
Setelah tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam.

Sabtu, 28 Januari 2012

Artikel Atjeh

Aceh Berdarah Lagi


Munawar A. Djalil
Penulis adalah Alumnus Ph.D, Islamic Political Science Universitas Malaya.
Source : Serambi News

BELUM lagi tuntas kasus penembakan yang terjadi selama ini di Aceh diusut petugas, tiba-tiba kita disuguhkan berita yang menyayat hati yaitu, pemberondongan yang menewaskan 4 orang terjadi di Bireuen dan Banda Aceh (Serambi Indonesia, 2 Januari 2012). Kesedihan, hati luka, dan kekhawatiran itulah kesan pertama yang muncul dibenak semua orang ketika menyebut kondisi Aceh akhir-akhir ini.

Kejadian tersebut memang pantas mendeskripsikan wajah Aceh yang kembali berdarah. Berbagai peristiwa penembakan bagaikan drama serial yang sedang dipentaskan di Aceh, babak demi babak, episode demi episode berlalu dengan mulus dan terus berada dalam satu plot berita dan topik yang tak jauh berbeda yaitu sebuah bentuk teror bernuansa politik. Kenapa tidak, adegan demi adegan telah terjadi, adegan yang dilakoni mulai dari penembakan terhadap target person dengan tendensi politik sampai penembakan liar. Saya berasumsi, penembakan tersebut adalah sebuah bentuk teror yang dilakukan hanya untuk memperkeruh suasana damai Aceh lebih-lebih jelang pilkada.

Bagi masyarakat Aceh, penembakan yang terjadi selama ini merupakan hal yang biasa dan wujud dari sebuah risiko pengabdian mereka selama ini. Keadaan ini bukan infinitive, tapi bisa-bisa menjelma menjadi sebuah kekuatan yang tak terbatas (unlimited power) seperti sebuah pohon raksasa, jiwa itu membutuhkan banyak persyaratan seperti lingkungan, pendidikan, dan situasi tertentu, untuk bisa tumbuh besar, kenyataan ini merupakan sebuah keadaan yang lahir secara natural. Akan tetapi siapakah yang bisa menjamin persyaratan itu tidak selalu datang jika melihat catatan sejarah bumi nusantara ini, yang dipenuhi deretan panjang para tiran yang selalu menginginkan solusi teror dan darah?

Namun apa yang paling berharga dalam sebuah penembakan, teror seperti yang sedang terjadi saat ini di Aceh? Kemenangan mungkin, tapi kemenangan itu akan ada, kalau ada kekalahan. Di sini, kecuali teror, penembakan, juga ada keragu-raguan. Untuk apa teror dan penembakan itu dilakukan, Seperti yang sering dipertanyakan tentara-tentara Amerika di Vietnam atau mereka yang tak terlibat teror tapi tinggal di wilayah yang kerap dijadikan lahan teror, yang paling berharga adalah justru sebuah pengandaian; Bagaimana kalau teror seperti itu tidak dimulai? tentunya kemenangan dan kekalahan itu tak akan pernah datang--justru damai dan rasa aman yang senantiasa dirasakan.

Ketika berlangsung peristiwa penembakan seperti yang terjadi belakangan ini, kita kembali teringat tanah Aceh masa silam yang malang dan rakyat yang hengkang, kita ingat dia, bukan karena daerah ini dilibas oleh bedil-bedil Belanda dan Jepang. Kita ingat dia, karena ada sesuatu yang jauh sesudahnya. Nun, di saat negara ini menikmati kemerdekaannya, Aceh telah kembali mengawali sejarah kekejaman. Sebuah “proyek konflik” dikelola yaitu Operasi Militer.

Sejenak kita menapaktilasi potret tersebut ketika operasi militer berlangsung di Aceh, sebagian rakyat di pelosok-pelosok Aceh harus menguak mata lebar-lebar, sawah dan kebun telah berubah, gersang, tandus dan daun-daunnya menjadi pucat pasi. Arus-arus pengungsi berdiam di tempat pengungsian. Perempuan tua, anak-anak kecil, orang-orang tak berdosa, mereka membatin dalam kem pengungsian bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi berharga, marwah tercampakkan, harga diri terabaikan.

Pembunuhan-pembunuhan ala “Kanibalisme Kuno” telah terjadi di depan mata walau dalam dunia modern kini. Jika itu masih ada, orang waras pasti marah dan mengutuknya. Sayangnya dunia modern sekarang ini masih mempertahankan “Neo Kanibalisme” yang mirip dengan Kanibalisme kuno. Cuma bentuk perlakuannya saja berbeda. Korban-korban “Neo Kanibalisme” dikeroyok oleh “Character Assassination” yaitu pembunuhan atau pemusnahan watak. Jahiliyah modern lebih azab dan hina, karena mereka bukan saja tidak kenal Allah, tetapi juga tidak kenal anak bangsanya sendiri malahan tidak kenal diri mereka sendiri. Tujuan hidup mereka seperti mesin atau robot bebas melakukan apa saja seperti binatang, sama dengan anggapan tokoh-tokoh pemikir modern, mark, Freud, Durkheim, Dawrin, Nietche, Machiavelli dan sebagainya. Maka tidaklah mengherankan dalam dunia sekarang ini terdapat banyak politikus, negarawan, ahli filsafat dan seniman terus meraba-raba dalam hidup dan kesehariannya karena buta dari tuntutan ilahi. Firman Allah, “Mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada Hidayah. (Alquran : 41 : Ayat 7).

Ironi memang, ketika rakyat Aceh sedang merasakan kembali damai dalam spirit pemerintahan baru, lagi-lagi, Aceh bersimbah darah. Meskipun Pangdam Iskandar Muda menilai bahwa penembakan terakhir merupakan kepentingan perorangan bukan kepentingan organisasi. Namun saya sampai kini tidak pernah tahu tindakan teror model ini mengatasnamakan siapa, personal ataukah kelompok tertentu yang menginginkan Aceh kembali bersimbah darah.

Dalam hubungan itu sebuah teori konflik menjelaskan bahwa, awalnya mereka menebarkan isu-isu yang tak bertanggungjawab, menebarkan teror, ancaman, dan propaganda melalui tindakan. Propaganda selanjutnya adalah dengan mengajak rakyat berpartisipasi, semakin besar “partisipasi” masyarakat untuk bereaksi semakin besar ledakan. Jika itu jadi ledakan massa dengan rasa panik maka amat efektiflah propagandanya. Semakin besar korbannya dan semakin “edan” peristiwanya maka semakin “gendeng” pula hasilnya. Dengan pengalaman sejarah, rakyat Aceh telah tahu akan propaganda itu, namun mereka takut akan jari telunjuk mereka, bukan menunjuk haluan tempat kembali, tapi telunjuk untuk menarik pelatuk senjata.

Ingat ketika Henry Dunant Centre gagal, propaganda anti HDC dilancarkan usaha itupun berhasil yang akhirnya HDC menarik diri hingga Darurat Militer digelar di Aceh. Kejadian-kejadian itu telah menjadi sebuah pelajaran sekaligus nestapa bagi rakyat, dilematis memang, di saat rakyat ingin hidup damai dalam nuansa pemerintahan baru, di saat yang sama banyak pelaku teror bermunculan yaitu menciptakan konflik baru, menggagalkan proses damai dan tentunya dengan sebuah “grand scenario” supaya Aceh kembali berdarah. Allahu `Alam