Minggu, 01 April 2012

NASIONALISME ACEH SUMATERA (NAS)


Hasan Tiro & Pasukan Teuntra Atjeh

Keterangan:
Nasionalisme Aceh Sumatera ini, disingkat dengan NAS sebenarnya sudah ada semenjak Kerajaan Aceh Sumtera pertama sekali muncul, yaitu pada waktu dinobatnya Sulthan Aceh yang pertama: Sulthan Alaidin Riayatsyah pada tanggal: 20 April 1511 Masehi. Kerajaan Aceh Sumatera ini pada waktu pertama sekali di Proklamasikan berlokasi di ujung paling barat Pulau Smatera, hanya berupa sebuah Kerajaan kecil s...aja. Akantetapi kemudiannya sejalan dengan perkembangan waktu atau perkembangan zaman Kerajaan Aceh Sumatra ini juga maju dan berkembang dengan pesatnya.
Pada masa kekuasaan Sulthan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Sumatra ini sudah berkembang pada puncak kejayaannya, hingga menguasai seluruh Pulau Sumatera dan seluruh Semenanjung Malaka serta Kerajaan Banten di Pulau Jawa, yaitu pada tahun 1603 Masehi sampai dengan 1637 Masehi. Kemudian setelah itu kejayaannya mengalami penurunan dengan berangsur-rangsur. Hingga pada masa Sulthan kedua yang terakhir, yaitu Sulthan Mansursyah pada tahun 1873 Masehi, Kerajaan Aceh Sumatera mengalami kemorosotan yang sangat parah. Ditandai dengan diultimatumkan perang terhadap Kerajaan Aceh Sumatra ini oleh Kerajaan Belanda dari Benua Eropa pada tanggal: 26 Maret 1873 Masehi.
Akantetapi Kerajaan Aceh Sumatera secara Dejure (Hukum) tidak pernah hancur, karena peperangan dan perlawanan Rakyat Aceh terus berlanjut dan berkecamuk sampai sekarang ini, Walaupun secara pribadi Sulthan Aceh yang terakhir, yaitu: Muhammad Daudsyah pernah menyerahkan diri, itu hanya penyerahan seorang Rakyat biasa saja, karena sebelumnya Kedudukannya sebagai Sulthan Aceh sudah diserahkan kepada Teungku Syik Ditiro Muhammad Saman, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1874 Masehi, dengan Gelar Sulthan Aceh dirobah menjadi Gelar: Wali Neugara Aceh Sumatera.
Sulthan Aceh yang terakhir Muhammad Daudsyah hanya Berkuasa selama lima hari saja, yaitu semenjak meninggalnya Sulthan Aceh yang kedua terakhir pada tanggal 27 Desember 1873 Masehi sampai dengan 31 Desember 1873 Masehi. Disebabkan keadaan Kerajaan Aceh Sumatera pada waktu itu yang sangat Darurat karena dalam keadaan perang yang masih sangat berkecamuk, sedangkan umur Sulthan Aceh yang Terakhir tersebut Muhammad Daudsyah masih kecil, yaitu 12 tahun, maka dia digantilah dengan Teungku Syik Ditiro Muhammad Saman dengan Gelar: Wali Neugara Aceh Sumatera, seperti tersebut diatas.
Teungku Syik Ditiro Muhammad Saman adalah Wali Neugara Aceh Sumatera yang Pertama, akan tetapi karena dia meneruskan Perang dengan Belanda dan Perjuangan mengembalikan Kerajaan Aceh Sumatera secara Defacto (Menguasai Wilayah) seperti semula, yaitu seperti keadaan sebelum perang, maka dia juga di Gelar Sulthan Aceh ke 32 sebagai sambungan dari Sulthan Aceh ke 31 Muhammad Daudsyah. Kemudian setelah Teungku Syik Ditiro Muhammad Saman syahid, digantikan secara berturut-turut oleh Teungku Syik Ditiro Muhammad Amin, Teungku Syik Ditiro Sulaiman, Teungku Syik Ditiro Ubaidillah, Teungku Syik Ditiro Zainal Abidin, Teungku Syik Ditiro Mahyeddin, Teungku Syik Ditiro Muhammad Ma’ad dan terakhir sekarang ini Teungku Syik Ditiro Hasan Ben Muhammad sebagai Sulthan Kerajaan Aceh Sumatera yang ke 39 atau Wali Neugara Aceh Sumatera yang ke 8, sementara itu Teungku Syik Ditiro Hasan Ben Muhammad populer disebut sebagai: WALI NANGGOE Aceh.
Begitu juga dengan Nasionalisme Aceh Sumatera melekat rapat pada Kerajaan Aceh Sumatera, yaitu ibarat Zat dengan Sifat tidak dapat dipisahkan, artinya suatu Zat kalau tidak ada Sifatnya, maka Zat tersebut adalah fiktif atau nihil, begitujuga dengan Nasionalisme Aceh Sumatera ini adalah sifatnya dari Kerajaan Aceh Sumatera. Dengan adanya Kerajaan Aceh Sumatera menunjukkan juga adanya Nasionalisme Aceh Sumatera ini.
Nasionalisme Aceh Sumatera ini REINGKARNASI kembali pada tanggal: 15 Agustus 2005 bersamaan dengan lahirnya Perjanjian Damai MoU RI-GAM di Helsinki, Firlandia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar