![]() |
| Hasan Tiro & Pasukan Teuntra Atjeh |
Keterangan:
Nasionalisme Aceh Sumatera ini, disingkat
dengan NAS sebenarnya sudah ada semenjak Kerajaan Aceh Sumtera pertama sekali
muncul, yaitu pada waktu dinobatnya Sulthan Aceh yang pertama: Sulthan Alaidin
Riayatsyah pada tanggal: 20 April 1511 Masehi. Kerajaan Aceh Sumatera ini pada
waktu pertama sekali di Proklamasikan berlokasi di ujung paling barat Pulau
Smatera, hanya berupa sebuah Kerajaan kecil s...aja. Akantetapi kemudiannya
sejalan dengan perkembangan waktu atau perkembangan zaman Kerajaan Aceh Sumatra
ini juga maju dan berkembang dengan pesatnya.
Pada masa kekuasaan Sulthan Iskandar
Muda, Kerajaan Aceh Sumatra ini sudah berkembang pada puncak kejayaannya,
hingga menguasai seluruh Pulau Sumatera dan seluruh Semenanjung Malaka serta
Kerajaan Banten di Pulau Jawa, yaitu pada tahun 1603 Masehi sampai dengan 1637
Masehi. Kemudian setelah itu kejayaannya mengalami penurunan dengan
berangsur-rangsur. Hingga pada masa Sulthan kedua yang terakhir, yaitu Sulthan
Mansursyah pada tahun 1873 Masehi, Kerajaan Aceh Sumatera mengalami kemorosotan
yang sangat parah. Ditandai dengan diultimatumkan perang terhadap Kerajaan Aceh
Sumatra ini oleh Kerajaan Belanda dari Benua Eropa pada tanggal: 26 Maret 1873
Masehi.
Akantetapi Kerajaan Aceh Sumatera
secara Dejure (Hukum) tidak pernah hancur, karena peperangan dan perlawanan
Rakyat Aceh terus berlanjut dan berkecamuk sampai sekarang ini, Walaupun secara
pribadi Sulthan Aceh yang terakhir, yaitu: Muhammad Daudsyah pernah menyerahkan
diri, itu hanya penyerahan seorang Rakyat biasa saja, karena sebelumnya Kedudukannya
sebagai Sulthan Aceh sudah diserahkan kepada Teungku Syik Ditiro Muhammad
Saman, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1874 Masehi, dengan Gelar Sulthan Aceh
dirobah menjadi Gelar: Wali Neugara Aceh Sumatera.
Sulthan Aceh yang terakhir Muhammad
Daudsyah hanya Berkuasa selama lima hari saja, yaitu semenjak meninggalnya
Sulthan Aceh yang kedua terakhir pada tanggal 27 Desember 1873 Masehi sampai
dengan 31 Desember 1873 Masehi. Disebabkan keadaan Kerajaan Aceh Sumatera pada
waktu itu yang sangat Darurat karena dalam keadaan perang yang masih sangat
berkecamuk, sedangkan umur Sulthan Aceh yang Terakhir tersebut Muhammad
Daudsyah masih kecil, yaitu 12 tahun, maka dia digantilah dengan Teungku Syik
Ditiro Muhammad Saman dengan Gelar: Wali Neugara Aceh Sumatera, seperti
tersebut diatas.
Teungku Syik Ditiro Muhammad Saman
adalah Wali Neugara Aceh Sumatera yang Pertama, akan tetapi karena dia
meneruskan Perang dengan Belanda dan Perjuangan mengembalikan Kerajaan Aceh
Sumatera secara Defacto (Menguasai Wilayah) seperti semula, yaitu seperti
keadaan sebelum perang, maka dia juga di Gelar Sulthan Aceh ke 32 sebagai
sambungan dari Sulthan Aceh ke 31 Muhammad Daudsyah. Kemudian setelah Teungku
Syik Ditiro Muhammad Saman syahid, digantikan secara berturut-turut oleh
Teungku Syik Ditiro Muhammad Amin, Teungku Syik Ditiro Sulaiman, Teungku Syik
Ditiro Ubaidillah, Teungku Syik Ditiro Zainal Abidin, Teungku Syik Ditiro
Mahyeddin, Teungku Syik Ditiro Muhammad Ma’ad dan terakhir sekarang ini Teungku
Syik Ditiro Hasan Ben Muhammad sebagai Sulthan Kerajaan Aceh Sumatera yang ke
39 atau Wali Neugara Aceh Sumatera yang ke 8, sementara itu Teungku Syik Ditiro
Hasan Ben Muhammad populer disebut sebagai: WALI NANGGOE Aceh.
Begitu juga dengan Nasionalisme Aceh
Sumatera melekat rapat pada Kerajaan Aceh Sumatera, yaitu ibarat Zat dengan
Sifat tidak dapat dipisahkan, artinya suatu Zat kalau tidak ada Sifatnya, maka
Zat tersebut adalah fiktif atau nihil, begitujuga dengan Nasionalisme Aceh
Sumatera ini adalah sifatnya dari Kerajaan Aceh Sumatera. Dengan adanya
Kerajaan Aceh Sumatera menunjukkan juga adanya Nasionalisme Aceh Sumatera ini.
Nasionalisme Aceh Sumatera ini
REINGKARNASI kembali pada tanggal: 15 Agustus 2005 bersamaan dengan lahirnya
Perjanjian Damai MoU RI-GAM di Helsinki, Firlandia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar